Rabu, 17 September 2014



Surat Untuk Buddha Jilid 2

Buddha…
Maaf
Untuk kedua kalinya aku menulis surat padamu
Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana

Buddha…
Engkau tahu apa yang kualami sekarang
Aku sudah mencapai batas kemampuanku
Aku lelah

Buddha….
Mengapa justru orang-orang terdekatku
Yang selalu menyakiti dan membuatku sesak
Mengapa mereka, Buddha?

Buddha…
Engkau sangat tahu,
Jika aku selalu tak berkutik dengan mereka
Jika bukan aku yang melakukan hal buruk

Buddha…
Mungkin di kehidupan lampauku aku berbuat yang sama dengan mereka
Akusala Karma ku telah berbuah

Buddha…
Bolehkah aku mengajukan permohonan itu lagi?
Kali ini, kabulkanlah permohonanku
Bawa aku ke sisi Mu saja

Minggu, 14 September 2014



Jika aku iri hati,
Ini hanya akan membuatku sakit
Jika aku memendam kebencian, marah-marah
Ini hanya akan membuatku kusut, suram dan jelek
Jika aku memiliki rasa serakah,
Ini hanya akan membuatku semakin kekurangan
Dan Jika aku terus menerus terbelenggu itu semua
Maka aku tidak akan keluar dari siklus penderitaan.
Karena keserakahan, kebencian dan iri hati
Adalah akar dari kegelapan batin, sumber penderitaan
Yang tiada habisnya

Selasa, 09 September 2014

CEMAS



Telpon bordering…
Keceriaan seketika berubah
Suasana menjadi tegang
Wajah gelisah dan perut sakit

Saat telpon diangkat,
Suara yang dikenal menyapa disana
Ketegangan bertambah besar
Kecemasan semakin menjadi

Kapankah ini semua berakhir?
Kapankah kan di dapat ketenangan?
Selalu hidup dalam kecemasan
Selalu hidup dalam trauma

Satu yang ingin dicapai
Hidup tenang dan damai
Tanpa ada gangguan berarti
Tanpa kegelisahan dan ketakutan

Senin, 08 September 2014

Surat Untuk Buddha



Langkah semakin gontai
Langit semakin gelap
Menyusuri jalan setapak
Tanpa arah tujuan

Mata terpejam,
Kutarik nafas dalam-dalam
Kucoba sadari apa yang terjadi
Masih terasa sakit di dada ini

Kucoba bicara baik-baik,
Namun bagai menepuk air didulang,
Semua nya sia-sia
Dan kembali padaku

Kucoba redam amarah, namun sia-sia
Kucoba teriak, namun tak ada suara yang keluar
Kucoba menangis, hanya menambah sakit di dada
Tiada guna semuanya

Ku ingin membelai lembut mereka,
Namun bukan sadar, tetapi malah semakin menjadi
Ku ingin memukul mereka tuk coba sadarkan mereka, tapi percuma saja
Karena bukan mereka yang sakit, tapi aku.

Buddha….

Bolehkah aku menyerah sekarang?
Bolehkan aku berada di sisi Mu?
Bolehkan aku kembali padamu saja
Tanpa terjebak siklus ini lagi

Buddha….

Aku Tahu….Aku Mengerti jawabanMu
Namun Engkau juga tahu
Bahwa aku muridMu yang bandel dan bodoh ini
Bukan murid yang penyabar dan rajin

Buddha….
Apa yang harus kulakukan?
Berapa lama lagi sisa waktuku?